Belajar dari Peristiwa Yesus Berjalan di Atas Air (Yoh 6:16-21)
Melalui peristiwa Yesus berjalan di atas air, Yesus menyatakan siapa sesungguhnya diri-Nya. Dia adalah Allah. Sebagaimana di PL, Allah berkuasa mengendalikan air samudera pada waktu penciptaan, juga sebagaimana Allah berkuasa membelah Laut Teberau sehingga Israel dapat menyeberang; maka di sini Yesus juga menunjukkan kuasa Allah yang sama, dimana Dia berkuasa mengendalikan angin dan gelombang.
Jika Allah dipihak kita siapakah yang dapat melawan? (Rom 8:31). Ketika Yesus ada di dalam perahu, maka dengan segera perahu itu pun sampai ke pantai yang mereka tujui (Yoh. 6: 21). Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi Tuhan Yesus. Dia sanggup menolong kita. Dia sanggup melepaskan kita dari badai masalah. Dia sanggup membawa kita sampai ke tujuan.
Tetapi mengapa para murid menjadi begitu takut dan gentar? Bukankah mereka baru saja melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan Yesus yang luar biasa? Mungkin karena mereka hanya sampai pada terpukau dan terpaku pada perbuatan mujizat Yesus. Mereka belum mengenal Yesus sebagai Allah atas hidup mereka. Dan jika mereka belum mengenal Yesus sebagai Allah, bagaimana mereka dapat percaya dan bersandar kepada-Nya?
Bagaimana dengan kita? Siapakah Yesus di mata Saudara? Apakah Dia hanya sekadar pembuat keajaiban untuk persoalan hidup kita? Apakah kita sudah merasa cukup ketika berkat-berkat-Nya melimpah dalam hidup kita? Adakah kita mengenal Dia sebagai Allah, yang patut disembah, baik dalam suka maupun duka hidup kita? Masihkah kita melayani-Nya dengan sepenuh hati? Jika kita menyembah Yesus, dan mempercayakan hidup kita kepada-Nya, maka niscaya ada damai dan kelepasan dalam setiap badai hidup kita. (HT)
Jika Allah dipihak kita siapakah yang dapat melawan? (Rom 8:31). Ketika Yesus ada di dalam perahu, maka dengan segera perahu itu pun sampai ke pantai yang mereka tujui (Yoh. 6: 21). Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi Tuhan Yesus. Dia sanggup menolong kita. Dia sanggup melepaskan kita dari badai masalah. Dia sanggup membawa kita sampai ke tujuan.
Tetapi mengapa para murid menjadi begitu takut dan gentar? Bukankah mereka baru saja melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan Yesus yang luar biasa? Mungkin karena mereka hanya sampai pada terpukau dan terpaku pada perbuatan mujizat Yesus. Mereka belum mengenal Yesus sebagai Allah atas hidup mereka. Dan jika mereka belum mengenal Yesus sebagai Allah, bagaimana mereka dapat percaya dan bersandar kepada-Nya?
Bagaimana dengan kita? Siapakah Yesus di mata Saudara? Apakah Dia hanya sekadar pembuat keajaiban untuk persoalan hidup kita? Apakah kita sudah merasa cukup ketika berkat-berkat-Nya melimpah dalam hidup kita? Adakah kita mengenal Dia sebagai Allah, yang patut disembah, baik dalam suka maupun duka hidup kita? Masihkah kita melayani-Nya dengan sepenuh hati? Jika kita menyembah Yesus, dan mempercayakan hidup kita kepada-Nya, maka niscaya ada damai dan kelepasan dalam setiap badai hidup kita. (HT)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.