Datangnya hari Minggu bisa menjadi “momok” bagi guru-guru SM yang merasa “belum siap” untuk menyampaikan materi pengajarannya. Ketidaksiapan seorang guru untuk mengajar bisa diakibatkan karena kesibukan, atau adanya pergumulan hidup; tetapi bisa juga karena kemalasan, atau memandang enteng persiapan. Setiap guru SM perlu selalu mengintrospeksi dirinya sendiri dan bertanya: “Apakah aku siap mengajar minggu ini? Kalau aku tidak siap mengajar, apa sebabnya?”
Kekurangsiapan seorang guru SM dalam mengajar juga bisa diakibatkan karena kurangnya alat bantu, baik mentor maupun bahan-bahan yang diperlukan. Selain perenungan mandiri, seorang guru membutuhkan seorang mentor atau paling tidak, seorang rekan yang bisa membantunya dalam mempersiapkan bahan ajar. Buku Pedoman, buku-buku penunjang lainnya, serta informasi media lainnya juga sangat dibutuhkan oleh seorang guru sekolah minggu masa kini. Inilah yang membuat kelas persiapan menjadi sangat penting bagi setiap guru, karena di dalam kelas persiapan, setiap guru dapat saling belajar dan “mempertajam” satu sama lain. Dalam kelas persiapanlah, setiap guru dapat saling berbagi, baik temuan “penggalian” Alkitab-nya, maupun ide “penyajian” cerita minggu itu.
Berbicara tentang kualitas bahan ajar SM, saya teringat pada sebuah ungkapan dari Charles Swindoll, seorang pendeta yang menjadi berkat bagi banyak orang. Beliau mengatakan demikian: The difference between something good and something great is attention to detail. Atau dengan kata lain, yang membedakan antara hal yang bagus dengan hal yang hebat adalah perhatian pada detil. Jika membuat bahan ajar merupakan dedikasi pelayanan kita kepada Tuhan, maka sudah seharusnyalah kita mengupayakan sebuah bahan ajar yang bukan hanya “bagus”, tetapi juga “great”/hebat bagi kemuliaan nama-Nya. Bahan ajar yang baik tidak lahir dari persiapan ala kadar-nya, tetapi dari persiapan yang detil dan matang. Berikut ini kita akan belajar beberapa hal penting dalam mempersiapkan sebuah bahan ajar.
MOTIVASI SEORANG GURU SM
Kualitas sebuah bahan ajar sangatlah ditentukan oleh apa yang menggerakkan seorang guru untuk membuatnya. Motivasi yang tepat dan tulus akan menghasilkan sebuah pelayanan yang maksimal. Paling tidak ada tiga motivasi yang penting bagi seorang guru sekolah minggu:
Pertama, melayani karena cinta Tuhan. Dia-lah yang lebih dahulu mengasihi kita dan memanggil kita dalam sebuah pelayanan yang mulia. Jika kita melayani karena cinta kita kepada Tuhan, maka pelayanan kita akan menjadi sebuah pelayanan yang tulus dan maksimal.
Kedua, melayani sebagai sebuah kehormatan. Tuhan telah memberikan kita sebuah kehormatan yang istimewa, untuk mengajar anak-anak yang adalah generasi penerus Gereja, sehingga mereka mengenal Tuhan dan tahu bagaimana harus hidup sebagai anak Tuhan. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang besar.
Ketiga, melayani adalah sebuah kesempatan. Jangan menganggap pelayanan SM hanya rutinitas belaka, karena kita tidak tahu kapan saatnya ketika Tuhan berkata: “Anak-Ku, Aku memanggilmu pulang.” Banyak guru-guru SM yang “terbaik” sudah mendahului kita, bukan karena pelayanan mereka tidak baik, tetapi karena Tuhan menganggap pelayanan mereka sudah cukup. Kesempatan kita melayani tidak selalu ada, karena itu layak diperjuangkan dengan maksimal.
TUJUAN DASAR PENGAJARAN SM
Jika kita mengacu kepada Efesus 4:11-16, maka kita menemukan tujuan umum pengajaran SM meliputi:
Kekurangsiapan seorang guru SM dalam mengajar juga bisa diakibatkan karena kurangnya alat bantu, baik mentor maupun bahan-bahan yang diperlukan. Selain perenungan mandiri, seorang guru membutuhkan seorang mentor atau paling tidak, seorang rekan yang bisa membantunya dalam mempersiapkan bahan ajar. Buku Pedoman, buku-buku penunjang lainnya, serta informasi media lainnya juga sangat dibutuhkan oleh seorang guru sekolah minggu masa kini. Inilah yang membuat kelas persiapan menjadi sangat penting bagi setiap guru, karena di dalam kelas persiapan, setiap guru dapat saling belajar dan “mempertajam” satu sama lain. Dalam kelas persiapanlah, setiap guru dapat saling berbagi, baik temuan “penggalian” Alkitab-nya, maupun ide “penyajian” cerita minggu itu.
Berbicara tentang kualitas bahan ajar SM, saya teringat pada sebuah ungkapan dari Charles Swindoll, seorang pendeta yang menjadi berkat bagi banyak orang. Beliau mengatakan demikian: The difference between something good and something great is attention to detail. Atau dengan kata lain, yang membedakan antara hal yang bagus dengan hal yang hebat adalah perhatian pada detil. Jika membuat bahan ajar merupakan dedikasi pelayanan kita kepada Tuhan, maka sudah seharusnyalah kita mengupayakan sebuah bahan ajar yang bukan hanya “bagus”, tetapi juga “great”/hebat bagi kemuliaan nama-Nya. Bahan ajar yang baik tidak lahir dari persiapan ala kadar-nya, tetapi dari persiapan yang detil dan matang. Berikut ini kita akan belajar beberapa hal penting dalam mempersiapkan sebuah bahan ajar.
MOTIVASI SEORANG GURU SM
Kualitas sebuah bahan ajar sangatlah ditentukan oleh apa yang menggerakkan seorang guru untuk membuatnya. Motivasi yang tepat dan tulus akan menghasilkan sebuah pelayanan yang maksimal. Paling tidak ada tiga motivasi yang penting bagi seorang guru sekolah minggu:
Pertama, melayani karena cinta Tuhan. Dia-lah yang lebih dahulu mengasihi kita dan memanggil kita dalam sebuah pelayanan yang mulia. Jika kita melayani karena cinta kita kepada Tuhan, maka pelayanan kita akan menjadi sebuah pelayanan yang tulus dan maksimal.
Kedua, melayani sebagai sebuah kehormatan. Tuhan telah memberikan kita sebuah kehormatan yang istimewa, untuk mengajar anak-anak yang adalah generasi penerus Gereja, sehingga mereka mengenal Tuhan dan tahu bagaimana harus hidup sebagai anak Tuhan. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang besar.
Ketiga, melayani adalah sebuah kesempatan. Jangan menganggap pelayanan SM hanya rutinitas belaka, karena kita tidak tahu kapan saatnya ketika Tuhan berkata: “Anak-Ku, Aku memanggilmu pulang.” Banyak guru-guru SM yang “terbaik” sudah mendahului kita, bukan karena pelayanan mereka tidak baik, tetapi karena Tuhan menganggap pelayanan mereka sudah cukup. Kesempatan kita melayani tidak selalu ada, karena itu layak diperjuangkan dengan maksimal.
TUJUAN DASAR PENGAJARAN SM
Jika kita mengacu kepada Efesus 4:11-16, maka kita menemukan tujuan umum pengajaran SM meliputi:
- Memperkenalkan anak pada keberadaan Allah dan manusia, serta menjabarkan apa yang terjadi antara Allah dan manusia.
- Menuntun anak untuk mengenal Tuhan Yesus dan karya-Nya serta menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
- Membimbing anak untuk hidup di dalam kebenaran Firman Allah.
- Memperlengkapi anak untuk melayani Allah dan menjadi berkat bagi sesama manusia.
MEMBUAT RENCANA PENGAJARAN (LESSON PLAN)
Ketika akan mengajar, seorang guru harus selalu memperhatikan teks, konteks perikop, dan konteks dimana murid kita hidup sekarang. Dari sanalah dia akan mendapatkan kebenaran yang perlu disampaikan. Namun “menemukan” sebuah kebenaran berbeda dengan “menyajikan” kebenaran itu. Guru membutuhkan pertolongan hikmat dan ketrampilan dari Roh Kudus dalam meramu sebuah khotbah (atau cerita) dan menyajikan kebenaran itu dengan bahasa yang dapat dipahami oleh anak-anak, bahkan menginspirasi mereka untuk berubah seperti yang Tuhan kehendaki. Untuk itu kita perlu membuat sebuah rencana pengajaran (lesson plan).
Salah satu alat bantu dalam membuat lesson plan, adalah metode Hook-Book-Look-Took. Berikut penjelasannya masing-masing:
HOOK (KAIL)
Ketika murid datang ke sekolah minggu, mereka datang dengan berbagai macam perasaan yang mereka bawa dari rumah mereka masing-masing. Tugas Guru adalah menarik perhatian mereka kepada Firman Tuhan yang akan disampaikan. Menit pertama sangat berarti, agar anak bersemangat untuk mendengarkan Firman Tuhan yang akan disampaikan. Sama pentingnya seperti sebuah hook bagi seorang nelayan yang ingin menangkap ikan. Hook dapat berupa lagu, pertanyaan, menunjukkan benda seperti boneka, bermain drama singkat dan sebagainya yang tentunya berkaitan dengan cerita yang akan disampaikan.
Hal yang harus diperhatikan dari sebuah Hook adalah:
Ketika akan mengajar, seorang guru harus selalu memperhatikan teks, konteks perikop, dan konteks dimana murid kita hidup sekarang. Dari sanalah dia akan mendapatkan kebenaran yang perlu disampaikan. Namun “menemukan” sebuah kebenaran berbeda dengan “menyajikan” kebenaran itu. Guru membutuhkan pertolongan hikmat dan ketrampilan dari Roh Kudus dalam meramu sebuah khotbah (atau cerita) dan menyajikan kebenaran itu dengan bahasa yang dapat dipahami oleh anak-anak, bahkan menginspirasi mereka untuk berubah seperti yang Tuhan kehendaki. Untuk itu kita perlu membuat sebuah rencana pengajaran (lesson plan).
Salah satu alat bantu dalam membuat lesson plan, adalah metode Hook-Book-Look-Took. Berikut penjelasannya masing-masing:
HOOK (KAIL)
Ketika murid datang ke sekolah minggu, mereka datang dengan berbagai macam perasaan yang mereka bawa dari rumah mereka masing-masing. Tugas Guru adalah menarik perhatian mereka kepada Firman Tuhan yang akan disampaikan. Menit pertama sangat berarti, agar anak bersemangat untuk mendengarkan Firman Tuhan yang akan disampaikan. Sama pentingnya seperti sebuah hook bagi seorang nelayan yang ingin menangkap ikan. Hook dapat berupa lagu, pertanyaan, menunjukkan benda seperti boneka, bermain drama singkat dan sebagainya yang tentunya berkaitan dengan cerita yang akan disampaikan.
Hal yang harus diperhatikan dari sebuah Hook adalah:
- Harus menggambarkan tema pelajaran yang akan disampaikan.
- Menimbulkan keingintahuan pada anak tentang pelajaran yang akan disampaikan.
- Ada hubungan dengan Firman Tuhan yang akan disampaikan.
- Membawa perhatian anak pada pelajaran.
- Tidak terlalu heboh sehingga akan memecah perhatian anak.
Book adalah penjelasan mengenai Firman Tuhan yang akan diberikan kepada anak hari itu. Book merupakan bagian yang penting bagi anak untuk memperoleh pelajaran dari Firman Tuhan yang akan disampaikan saat itu. Tidak semua anak dapat menangkap pelajaran secara auditori, maka penyampaiannya dapat divariasi (cerita, drama, panggung boneka, tanya-jawab, video, gambar-gambar, dsb.) Dalam menyampaikan Firman Tuhan harus memperhatikan siapa murid yang kita ajar (usia anak) supaya dapat menyesuaikan bentuk metode yang akan dipakai dan waktu yang akan digunakan.
LOOK (LIHAT)
Look adalah aplikasi yang murid pelajari dari kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan. Look merupakan jembatan antara apa yang Firman Tuhan katakan dengan kehidupan mereka saat ini. Look harus mampu menjawab pertanyaan, “Apa yang terjadi dengan duniaku hari ini?” Tidaklah cukup hanya mengajarkan atau menjelaskan tentang Firman Tuhan kepada anak. Lebih daripada itu, anak harus dapat menerapkan apa yang telah mereka pelajari dari Firman Tuhan. Guru perlu membantu anak untuk melihat dan mendapatkan relasi antara kebenaran Firman Tuhan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Guru perlu membantu anak melihat apa yang terjadi di dunia sekitar mereka (keluarga, teman kelas, gereja, tetangga, negara dan dunia).
Sebaiknya bagian Book seimbang dengan bagian Look. Aplikasi yang digunakan bukan sesuatu yang umum atau biasa, tetapi spesifik sehingga para murid bisa melihat kaitan antara Book dan Look. Jika mereka bisa melihat kaitannya maka mereka tidak berpikir bahwa apa yang kita ajarkan itu hanya cerita-cerita Alkitab, yang tidak ada relevansinya dengan kehidupan mereka.
TOOK (BAWA)
Took merupakan sesuatu (barang) yang dapat mereka bawa pulang kerumah mereka masing-masing, yang nantinya akan terus mengingatkan mereka akan pelajaran yang mereka dapatkan hari itu. Took menantang anak untuk membuat suatu keputusan (komitmen) yang akan mereka lakukan dalam kehidupan mereka. Took membantu anak agar mampu menerapkan dan merasakan bagaimana kebenaran Firman Tuhan yang telah mereka pelajari bekerja dalam kehidupan mereka. Took menjawab pertanyaan, ”Apa yang akan aku lakukan dengan apa yang telah aku pelajari hari ini?”
BEBERAPA TIPS DALAM MEMBUAT LESSON PLAN
LOOK (LIHAT)
Look adalah aplikasi yang murid pelajari dari kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan. Look merupakan jembatan antara apa yang Firman Tuhan katakan dengan kehidupan mereka saat ini. Look harus mampu menjawab pertanyaan, “Apa yang terjadi dengan duniaku hari ini?” Tidaklah cukup hanya mengajarkan atau menjelaskan tentang Firman Tuhan kepada anak. Lebih daripada itu, anak harus dapat menerapkan apa yang telah mereka pelajari dari Firman Tuhan. Guru perlu membantu anak untuk melihat dan mendapatkan relasi antara kebenaran Firman Tuhan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Guru perlu membantu anak melihat apa yang terjadi di dunia sekitar mereka (keluarga, teman kelas, gereja, tetangga, negara dan dunia).
Sebaiknya bagian Book seimbang dengan bagian Look. Aplikasi yang digunakan bukan sesuatu yang umum atau biasa, tetapi spesifik sehingga para murid bisa melihat kaitan antara Book dan Look. Jika mereka bisa melihat kaitannya maka mereka tidak berpikir bahwa apa yang kita ajarkan itu hanya cerita-cerita Alkitab, yang tidak ada relevansinya dengan kehidupan mereka.
TOOK (BAWA)
Took merupakan sesuatu (barang) yang dapat mereka bawa pulang kerumah mereka masing-masing, yang nantinya akan terus mengingatkan mereka akan pelajaran yang mereka dapatkan hari itu. Took menantang anak untuk membuat suatu keputusan (komitmen) yang akan mereka lakukan dalam kehidupan mereka. Took membantu anak agar mampu menerapkan dan merasakan bagaimana kebenaran Firman Tuhan yang telah mereka pelajari bekerja dalam kehidupan mereka. Took menjawab pertanyaan, ”Apa yang akan aku lakukan dengan apa yang telah aku pelajari hari ini?”
BEBERAPA TIPS DALAM MEMBUAT LESSON PLAN
- Mulailah dari isi Alkitab (BOOK), yaitu dengan menemukan sebuah kebenaran pelajaran yang ingin disampaikan. Dalam buku pedoman biasanya sudah tertera kebenaran pelajaran yang akan disampaikan. Hal ini baik untuk alasan keseragaman pengajaran dari setiap guru.
- Mengingat waktu yang sangat terbatas dan juga daya tangkap anak, maka narasi Alkitab perlu dikemas sedemikian rupa, sehingga mudah dipahami oleh ASM.
- Tentukan dengan cara apa cerita disampaikan: verbal, atau melalui media audio visual lainnya.
- Carilah kisah/ilustrasi cerita yang relevan dengan kehidupan anak, untuk mendukung kebenaran pelajaran.
- Setelah BOOK, buatlah aplikasi (LOOK), yang sesuai dengan kebenaran pelajaran. Di sini anak perlu menangkap signifikansi pelajaran bagi dirinya, dan tahu apa yang harus dia lakukan.
- Pikirkan pendahuluan (HOOK) yang tepat, yang bisa menarik perhatian anak pada cerita kita. Pikirkan sesuatu hal yang bisa kita lakukan, sehingga sebelum berceritapun anak sudah merasa nyaman dengan suasana kelas dan juga penasaran dengan cerita yang mau disampaikan. Hal ini bisa berupa kejutan-kejutan sederhana, misalnya; penataan/dekorasi ruangan, ada musik/lagu pengantar, ada tamu dengan pakaian ala Israel, yang menunggu mereka, atau memajang sebuah benda/simbol yang membangkitkan keingintahuan anak. Setelah itu barulah kita masuk dalam sebuah percakapan pendahuluan, yang biasanya berupa sebuah kisah atau pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan cerita hari itu.
- Buatlah sebuah proyek (TOOK) yang bisa dikerjakan oleh ASM sepulang dari SM. Hal ini bisa berupa menghafal ayat, mendoakan teman, mengunjungi sesama yang susah, merawat lingkungan, dan lain-lain. Intinya kegiatan yang akan mengingatkan ASM pada kebenaran pelajaran yang sudah diterimannya. Kegiatan-kegiatan ini juga tentunya disesuaikan dengan kemampuan anak.
Pada akhirnya, semoga nama Tuhan dikenal dan dimuliakan melalui pelayanan kita. Semoga kita menjadi pelayan-pelayan yang setia dalam perkara yang kecil, sebagaimana firman-Nya: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”. (Mat 25:23).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.